Asmara Subuh dikala pandemi.

Sudah menjadi kebiasaan anak-anak di beberapa daerah setiap shubuh selama bulan ramadhan. Mereka akan pergi berjalan-jalan, sekadar ingin bermain petasan, mencari gebetan atau pergi berduaan bersama pasangan. Masyarakat menyebut kegiatan tersebut dengan Asmara Shubuh.

Kegiatan ini diwariskan secara turun temurun dibeberapa daerah, termasuk daerah rumah saya, Kebumen. Biasanya tujuan akhir kegiatan ini adalah tempat rekreasi alam di daerah sekitar. Mereka memiliki tujuan yang berbeda-beda, ada yang ingin memadu kasih dengan pasangannya, berjalan-jalan sekedar menunggu pagi tiba, atau berkumpul dengan teman sebayanya.

Berbeda dengan mereka yang berniat untuk menuntaskan kangennya setelah semalam tak bergandeng tangan dengan pasangan. Saya dan kawan-kawan memaknai Asmara Shubuh dengan jalan jalan dan bermain petasan.

Biasanya kami membentuk beberapa koloni dengan jumlah persenjataan yang mumpuni. Kami mulai mengadu persenjatan siapa yang paling kuat. Dengan harga 1000 rupiah kami mendapatkan sebungkus petasan yang dijual di warung bang irpan. Korek jos, korek api kotak yang harganya Rp. 250 rupiah itu menjadi pelengkap persenjataan. Tak jarang pematik kayunya di buang dan di ganti dengan petasan.

Pertarungan seru antar kelompok ini akan berhenti kala salah satu diantara mereka kehabisan senjata. Kelompok yang berani mengakui kekalahan biasanya langsung pergi tanpa mencibir kelompok lainnya. Namun jika tidak mau mengakui kekalahan biasanya kita lanjutkan pertarungan dengan adu mulut. Semacam dendam kesumat, mereka akan mengadu nasib lagi hari berikutnya.

Tak jarang juga sambil berjalan-jalan kita mencari buah-buahan untuk persediaan berbuka puasa. Kita akan berjalan menuju daerah yang banyak pohon buahnya. Namun bukan buah yang berada di pohon yang akan kita ambil, hanya buah yang jatuh saja. Kita akan mengambil buah jatuh yang berada disepanjang jalan menuju rumah. Ada buah mangga, buah markisa, buah jambu bahkan buah rambutan tak luput dari penglihatan.

Adakah dari kalian yang kangen dengan Asmara Shubuh? Pastinya setiap orang memiliki pengalaman masing-masing. Tentu saja banyak yang pro dan kontra terhadap adanya asmara shubuh ini. Asamara shubuh sering dinilai sebagai hal yang berkonotasi negatif oleh sebagian masyarakat. Hal ini terjadi karena banyak yang menggunakan asmara subuh sebagai ajang untuk bercumbu dengan pasangannya. Meskipun kegiatan ini mempunyai imbas positif, namun dianggap negatif karena 

Beberapa hari lalu saya mencoba bernostalgia dengan mendatangi obyek wisata yang dulu menjadi primadona. Kini tak seramai biasanya. Corona oh Corona, sampai kapan kau ada di Indonesia.

DIKIRIM KE MOJOK TAPI DITOLAK :(

Komentar

Postingan Populer