Hatiku yang mudah tergores #Day1

Dear Diary,
09.00
Aku pergi menuju rumah mbah gino, adik mbah kungku yang rumahnya terletak tidak jauh dari rumahku. Disana aku bertemu dengan om dan tanteku dari kakak mbahku. aku terhanyut dengan kepintaran anak dari mbakku yang paling bontot. Riki namanya. lucu, dan pintar lah dia. inti dalam kisah ini bukanlah riki atau tanteku. tetapi kata-kata omku.

O : Sekarang dimana?
A : Masih dirumah ajah
O : Oh gitu
A : om kok dirumah? Libur po?
O : iya ambil cuti sampe tanggal 16 besok
A : Masih dinas diaceh?
O : iya masih, Eh katanya kamu enggak diterima kerja diSAGO? (nada sedikit meremehkan)
A : haha iya belum rejeki, denger dari mana?
O : ya denger2 aja
A : haaha iya om, lah aku daftar on the spot langsung test muehehe (kujelaskan panjang kali lebar kali tinggi)
O : kenapa ga daftar polisi?
A : emang bisa dari pendidikan kok?
O : daftar aja, gajinya lumayan kok sekitar 5 juta
A : haha ya bisa aja besok deh
O : belum punya pacar?
A : belum
O : Hari gini belum punya pacar? kan bisa buat semangat belajar, semangat kerja
A : udah ada penyemangat sendiri kok ya.

***
Kau tau apa yang kurasakan ketika meladeni perkataan itu? iniloh aku udah jadi orang *Astaghfirulloh. Kau tau bagaimana sakitnya hati ini? semacam dicabik-cabik ayam betina yang sedang PMS. semacam koreng yang diberi air garam. aku memang belum punya sesuatu yang dapat dibanggakan. aku hanyalah lulusan sarjana pendidikan yang masih saja menganggur. ah aku adalah kepingan harapan orang tua ku tentang masa depan. Ketahuilah dimasa mendatang aku akan memberimu kebahagiaan :) *semoga dengan ini menjadi motivasiku untuk lebih baik lagi.

Komentar

Postingan Populer