Gadis Desa, Dipelupuk Senja
Tepat tanggal 28 desember 17 tahun
silam, lahirlah seorang bayi mungil dari sebuah keluarga kecil bahagia. Mereka
tak henti hentinya tersenyum melihat kelahiran anak mereka yang pertama. Bahkan
tangis bahagia mereka pecah ketika tahu betapa sempurnanya anak mereka.
Kini hari-hari mereka dipenuhi dengan
kebahagiaan, sampai pada suatu saat sang ayah mengalami sebuah masalah yang
cukup berat. Sehingga dia melampiaskan kekesalannya dengan meminum-minuman
keras. Mereka tak terlilit hutang atau apapun, hanya masalah kecil yang serasa
dibesar-besarkan. akan tetapi hal ini terjadi berlarut larut sampai anak mereka
semakin dewasa.
Minum-minuman keras dan judi kini
menjadi hobi baru untuk sang ayah. ditengah kemorat maritan yang terjadi sang
anak sebut saja aya hanya bisa menangis. Setiap waktu ia harus melihat kejadian
yang tak sepantasnya ia lihat pada saat umurnya baru menginjak usia 5 tahun.
Harusnya di usia Aya yang baru lima
tahun, aya mendapat kasih sayang lebih dari orang tuanya. Tapi apa yang ia
dapat? Ia hanya melihat pertunjukan hebat didepannya, pertengkaran kedua orang
tuanya. Namun kejadian itu membuat aya semakin kuat dengan keadaan
disekitar rumahnya.
tahun 2002, adik laki laki nya pun
lahir. Aya sangat bahagia dengan itu, karna artinya dia memilki saudara yang
akan dapat mengobati luka di hatinya. Setelah kelahiran anak kedua di keluarga
mereka, hidup mereka sama saja. Tak ada perubahan berarti yang terjadi.
Tahun demi tahun dilewati bersama dalam
keadaan yang kurang kondusif, sampai akhirnya sang ayah meninggal dunia. Hal
ini sangat membuat keluarga kecil itu terbenam dalam kesedihan, bagaimana
tidak? Sang ayah tewas gantung diri di sudut kamar rumah mereka. Mereka tak
habis berfikir, bagaimana jalan pikiran ayah? Sehingga mau menghabisi dirinya?
Semenjak kematian ayahnya yang tragis
itu, mereka tak lagi menempati rumah sederhana itu. Mereka tinggal dirumah
nenek yang terletak tak jauh dari istananya. Semakin lama, ingatan tentang
kematian tragis ayahnya mulai memudar. Mereka hidup bahagia, walau terkaadang
ada orang yang tidak bertanggung jawab mengungkit-ungkit kejadian itu.
Kejadian yang sekarang menjadi aib
keluarga sedikit demi sedikit menghilang bak ditelan waktu. Tak terasa umur aya
memasuki angka 17, artinya aya semakin dewasa dan aya semakin membutuhkan peran
keluarga. Dia tak pernah mengeluh karena hanya mempunyai seseorang yang ia
cinta yaitu Ibu. Baginya, walaupun hanya punya satu orang tua tapi itu lebih
baik daripada punya orang tua lengkap tapi mereka selalu bertengkar.
Akhirnya dia tahu apa alasan ayahnya
menghabisi hidupnya, ia ingin semua anggota keluarganya bahagia tanpa rasa malu
mempunyai sosok ayah yang seperti mempunyai kepribadian ganda. Tapi bagi Aya,
kebahagiaan itu adalaah mempunyai keluarga utuh, punya ayah dan ibu. Tapi semua
sudah terlanjur, takdir telah mengatakan bahwa Aya harus hidup tanpa kasih
sayang seorang Ayah.
Semasa diSMA dia sangat merasa
kehilangan sosok ayah, Aya merasakan betapa beratnya menjadi anak SMA yang tak
punya sosok ayah. Tapi aya sadar ia punya sosok lain yang menggantikan ayahnya,
sosok paling kuat didunia yaitu seorang ibu yang menjadi seorang ayah baginya.
Bagi aya ibu adalah sesosok bidadari
yang dikirimkan tuhan untuk menyempurnakan hidupnya. Penah ia berfikir, Apa jadinya
kalau ibu sekaigus ayah baginya itu sakit? Siapa yang akan menjadi panutan bagi
keluarganya?
Disebuah ruang keluarga yang sederhana
bahkan cenderung seperti kandang kambing aya mengutarakan keinginannya
“Bu aya kan udah kelas tiga SMA, aya
pengen ngelanjutin kuliah bu” aya mengawali percakapan
“Aya, kita orang biasa, Bisa makan aja Alhamdulillah,
eh kamu malah pengen ngelanjutin sekolah? Mau bayar pake apa?” kata ibu sambil
mengusap kepala anaknya
“tapikan sekarang banyak beasiswa bu,
aya pengen mengubah keluarga kitaa.”
“sudahlah nak, ibu tidak bisa
menjanjikan apapun kecuali mendoakanmu. Kita hanya orang biasa, jadi jangan
kecentilan pengen melanjutkan sekolahlah”
Aya meninggalkan sesosok bidadari itu
diruang tamu bersama adik sematawayangnya yang mulai menginjak masa remaja. Aya
merenung didalam kamarnya. “memang yang boleh melanjutkan sekolah hanya orang
kaya? Orang yang mempunyai uang seguang? Kenapa orang yang tak punya uang tak
bisa sekolah?” seharian dia memikirkan hal tersebut, tanpa keluar kamar
sedetikpun, kecuali ia mengambil air wudlu.
Semakin dekat dengan Ujian nasional
artinya semakin dekat pula dengan penerimaan mahasiswa baru. Aya bigung dengan
semua itu, ia ingin sekolah tapi ibu tak punya uang untuk membiayainya.
Ditengah kebingungannya dia mencoba mencari pencerahan dengan bertanya kepada
guru kesayangannya.
“assalamu’alaikum bu” aya menyapanya
“wa’alaikumsalam, eh aya, sini masuk.”
Aya memasuki ruangan itu dengan agak
canggung, dia menimbang-nimbang ulang apa yang ia ingin utarakan. Antara
bingung dan canggung menjadi satu.
“Ada yang bisa ibu bantu ya?”
“begini bu, saya pengen sekolah, tapi
ibu saya tidak punya uang untuk membiayai saya. Saya harus bagaimana bu?”
“kenapa kamu bingung? Sekarang banyak
beasiswa disekolah. Toh kalau tidak beasiswa sekarang sistemnya UKT jadi
disesuaikan dengan penghasilan orang tuamu.” Bu guru menjelaskan
“tapi saya tidak terlalu pintar bu, UKT
itu apa bu?”
“UKT atau uang kuliah tunggal adalah
sistem yang dicanangkan oleh pemerintah agar semua warga negara bisa
melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi. UKT itu didasarkan dengan
kemampuan setiap keluarga ” Buguru menjelaskan lebih detail
Aya termenung, Dia bingung, apa yang
harus ia lakukan sekarang? Bekerja atau melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih
tinggi? Dia bingung diantara dua pilihan, kalaupun melanjutkan sekolah ya
nantinya psti akan bekerja. Kalau
memilih bekerja, mau jadi apa dia? pelayan Toko? Sebuah pilihan yang sangat
sulit yang harus diambil Aya.
Dia berpamitan kepada gurunya sambil
terus berfikir mau dibawa kemana masa depannya. Apa dia harus menerima pinangan
dari orang paling kaya didesanya yang sudah senja itu? Oh tentu jelas tidak,
aya tahu bahwa lelaki itu telah memiliki lebih dari dua istri. Mau jadi yang
keberapa aya?
Tettettet…
Bel tanda berakhirnya pelajaran
berbunyi, seperti biasa aya pergi kesebuah tempat yang tak ada seorangpun yang
tau. Kecuali dia dan tuhan. Miris memang menjadi aya, dia harus berusaha
mati-matian untuk sekolah. Dia termenung dipematang sawah yang menjadi tempat
favoritnya itu. Senja semakin menghitam, tapi sebuah keputusan pun belum
diambil olehnya. Aya memutuskan kembali istana kecilya.
Otak kecil aya tetap tak bisa berfikir
jernih, ia memutuskan untuk bercerita kepada malaikatnya tentang apa yang dia
rasakan. Malaikat yang selalu merawatnya, malaikat yang tak henti-hentinya
mendoakannya. Ibu, ya seorang ibu yang bisa meringankan beban pikirannya.
“ibu, aya bingung buu. Aya masih pingin
sekolah, tapi biayanya mahal buuu” aya menangis dalam pelukan ibunya
“Sudahlah nak, lupakan citacitamu, masih
banyak pekerjaan lain yang tidak mengharuskan kamu sekolah tinggi, ibu hanya
manusia biasa, jika kamu ingin sekolah, ya sekolah dengan uangmu sendiri
sayang.”
“masih banyak beasiswa bu, aya mau
ngelanjutin sekolah, aya mau ngejar cita-cita aya buu.” Aya sambil meneteskan
air mata
“ya sudah kalau kamu ingin sekolah, ibu
restui, tapi ibu tak bisa apa-apa, ibu hanya bisa membantu doa’a”
Betapa manisnya ibu dan anak ituu, dalam
pelukan mereka menangis bersama. Meluapkan keluh kesah yang menjadi duri
dikehidupan mereka. Aya merasa lega, karena niatnya menuntut ilmu disetujui
oleh ibunya. Dilain pihak, ibunya sedang berfikir keras, bagaimana ia bisa
membiayai anak perempuan satu satunya itu sekolah. Mau berhutang, ia takut tak
bisa membayarnyaa. Sungguh keluarga yang jauh dari kata bahagia.
Setiap malam, Cahya membuka buku tentang
pelajaran yang ia sukai, matematika, ya yang katanya musuh semua orang, tapi
menjadi sahabat baik untuknya. Semenjak SD ia menyukai rajanya pelajaran itu.
Dan saemenjak itu juga aya berfikir untuk menjadi seorang pengajar matematik.
Cita cita yang mulia gumam aya.
Pengisian PDDS sekolah pun dimulai, tak
lama setelah itu tibalah pendaftaran masuk Universitas. Ia memilih mendaftar di
Universitas x, sayang cahya belum berjodoh dengan jalur masuk tersebut,- BERSAMBUNG

Komentar
Posting Komentar